Gerakan Mahasiswa

Abstraksi
Mengapa gerakan mahasiswa atau gerakan perlawanan pemuda banyak muncul di negara berkembang ? Pertama, modernisme dalam bidang ekonomi politik dalam rangkaian dengan kekuasaan oleh kekuatan dan dominasi ekonomi politik negara-negara utara terhadap negara-negara selatan menyebabkan terjadinya transformasi sosial dalam bentuk kolonialisme, imperialisme sampai neo liberalisme yang terjadi hingga sekarang ini. Fakta akan adanya dominasi dan kesenjangan kelas semakin kentara dan tidak bisa ditutup-tutupi. Ini yang menjadi latar belakang utama kemunculan gerakan-gerakan pembebasan yang banyak didominasi kelompok muda intelektual yaitu mahasiswa. Dalam banyak hal keterlibatan gerakan mahasiswa, terutama dalam gerakan politik banyak mendapat pengaruh dari kondisi domestik maupun global. Namun hal yang cukup menjadi dorongan utama adalah kondisi politik dalam negeri. Misalnya saja kediktatoran pemerintahan militer Soeharto atau kediktatoran rezim yang sama di Amerika Latin menjadi pemicu awal dari tumbuhnya gerakan-gerakan demokratik mahasiswa.
Kedua, di Indonesia gerakan mahasiswa mendapat suatu legitimasi sejarah atas keturutsertaannya terlibat dalam gerakan kemerdekaan dan semenjak berdirinya negara menjadi bagian yang diakui dari sistem politik. Jika ditelusuri, misalnya, perjuangan kemerdekaan Nasional yang didorong Soekarno Cs lewat kelompok-kelompok studinya, Hatta lewat perhimpunan Indonesianya, ternyata efektif dan mampu secara luas membangkitkan perasaan untuk sesegera mungkin lepas dari belenggu kolonialisme. Kelompok yang dulunya disebut “pemuda pelajar” ini menjadi semacam “martil kelompok terdidik” yang membawa angin perubahan untuk memenuhi kebutuhan sosial masyarakat akan kemerdekaan.
Ketiga, kekurangan lembaga dan struktur politik yang mapan. Akibat dari itu adalah relatif mudahnya bagi setiap kelompok yang teroganisir untuk mempunyai dampak langsung terhadap politik. Eksistensi politik Gerakan Mahasiswa muncul ketika kebutuhan tersebut hadir. Apalagi di barisan bawah gerakan-gerakan yang disponsori belum terakomodasi menjadi kekuatan perubahan yang signifikan. Gerakan Mahasiswa mulai membentuk suatu elit, sehingga merasa berperan dalam kemungkinan terjadinya transformasi sosial yang lebih luas. Akses informasi tentang situasi perpolitikan memungkinkan banyak tela’ah untuk pembuktian bahwa proses regimentasi politik totaliter harus mendapat tanggapan yang serius dan tanggapan yang serius dan diterjemahkan dalam bentuk gerakan-gerakan yang lebih konkrit. Banyak di antara Universitas yang berada di perkotaan yang sebagian besar populasi mahasiswa berada dalam jarak jangkauan yang mudah terhadap pusat kekuasaan. Ini memungkinkan Gerakan Mahasiswa mudah melakukan sebuah aksi untuk memblow-up isu yang potensial dalam upaya pemobilisasian kesadaran massa yang lebih maju.
Beberapa fenomena politik mahasiswa menjadi makin mewmbesar karena ia di lakukan di tempat-tempat yang relatif mudah dijangkau media. Peristiwa 1965, 1974 sampai pada peristiwa Mei 1998 menjadi semacam pilot project radikalisme mahasiswa yang bergerak di lini oposisi pemerintahan. Gerakan Mahasiswa kemuadian mencuat menjadi semacam gerakan-gerakan ujung tombak (avant garde), dan eksistensinya semakin menjadi jelas ketika di dalam percaturan politik di tingkatan negara dan massa akar rumput (grass roots), merasa kekurangan oposisi dari sistem politik rezim parlementarian atau sentralisme. Sehingga Gerakan Mahasiswa seringkali menjadi “ cabang keempat” dari sistem pemerintahan.

A. Sejarah Bangsa Pra Politik Etis (Akhir masa Kerajaan)
Tahun 1478 M Kerajaan maritim Majapahit runtuh karena diserang oleh prabu Girindrawardhana dari Daha. Keruntuhan Majapahit ini menjadi titik akhir kejayaan kerajaan nusantara karena kerajaan-kerajaan yang muncul pasca Majapahit, seperti Demak, Pajang atau Mataram, lambat laun kehilangan taring khas bangsa maritim dan terkungkung dalam eksotisme budaya agraris. Titik balik kemunduran nusantara ini berawal dari kebijakan Sultan Trenggono (Raja Demak III) yang secara radikal merubah karakter kerajaannya menjadi kerajaan agraris. Meski di sisi lain, kita tidak dapat menafikan kedatangan bangsa Eropa di Nusantara, Portugis dan Spanyol kemudian disusul Belanda, yang juga turut menjadi sebab arus balik tersebut.
Portugis masuk ke Indonesia pada th 1511 di Kerajaan Malaka. 1527 Portugis tiba di Sunda Kelapa (sekarang Banten, pen.), kemudian 1551, menguasai Maluku yang menjadi sumber utama rempah-rempah. 1596 Belanda datang di bawah pimpinan Cornelis de Houtman dan berhasil mengalahkan Portugis. 1602 VOC berdiri. Sejak saat itu VOC mulai menampakkan wataknya sebagai penjajah dengan melakukan monopoli terhadap perdagangan, terutama rempah-rempah. 1619, Sunda Kelapa/ Jayakarta berganti nama menjadi Batavia dan secara resmi menjadi markas besar VOC.
Meski selalu berhasil dipatahkan namun perlawanan demi perlawanan terus-menerus dilakukan untuk kembali merebut kemerdekaan bangsa ini. Diantaranya; 1628&1629 => penyerangan Mataram terhadap Batavia di bawah Sultan Agung, 1667-1669 => Perang Makasar, 1667-1668 => perang Goa, 1682-1683 => perlawanan Sultan Ageng Tirtayasa, 1674-1679 => perlawanan Trunojoyo, 1685-1706 => perlawanan Untung Suropati, 1749-1755 => perlawanan Mangkubumi dan Mas Said, 1780 => perlawanan Sultan Nuku, 1817 => perlawanan Pattimura di Saparua Maluku, 1825-1830 => Perang Jawa (Perlawanan Pangeran Diponegoro), 1821-1837 => Perang Paderi (perlawanan Tuanku Imam Bonjol), perang Aceh dst. Kekalahan dan kegagalan dalam berbagai perlawanan tersebut sebagian besar disebabkan oleh Politik Adu Domba (Devide et Empera) yang diterapkan Belanda. Hal ini nampak jelas pada kasus perlawanan di Mataram yang berakhir pada perundingan-perundingan yang menguntungkan pihak Belanda (Perjanjian Gianti, Salatiga, Bongaya dll.)
Imbas dari peperangan tersebut, kas kerajaan Belanda mengalami devisit sehingga untuk menutupi kebangkrutan itu diterapkanlah kebijakan Cultur Stelsel (Tanam Paksa) yang menyebabkan penderitaan rakyat Hindia Belanda. Keadaan inilah yang memberikan inspirasi pada anggota parlemen Belanda C. Th. Van pada tahun 1899 untuk menulis sebuah usulan berjudul Utang Budi yang menjadi dasar diberlakukannya Politik Etis tahun 1901.
B. Sejarah Bangsa Pasca Politik Etis (1901-1945)
Politik etis, meski di satu sisi tetap menjadi pola kebijakan baru Belanda dalam mengelola tanah jajahan namun di sisi lain membawa pengaruh yang positif terhadap dunia pergerakan di Hindia Belanda. Karena dengan adanya pendidikan untuk kaum Pribumi pada akhirnya melahirkan golongan baru, yakni golongan priyayi akademik yang pada muaranya menjadi ujung tombak perlawanan terhadap kekuasaan Belanda.
Sebagaimana diungkapkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa tonggak awal organisasi pribumi adalah berdirinya Syarikat Priyayi tahun 1907 yang digawangi oleh RM. Tirto Adhi Soerjo, sang pemula pers pribumi dengan koran Medan Prijaji-nya. (dalam Tetralogi Pram, TAS dimunculkan dalam sosok Minke). Selanjutnya menjamur berbagai organisasi pemuda lainnya yang menandai dimulainya masa konsolidasi kekuatan bangsa dalam satu gerakan besar, seperti Boedi Oetomo, SDI/SI, PNI, IP, Indische Vereeniging, Trikoro Dharmo/Jong Java, Jong Celebes, Perhimpunan Indonesia, dsb.
Pada 30 April-2 Mei 1926 diadakan Kongres Pemuda I di Jakarta, yang dihadiri oleh banyak organisasi kedaerahan. Keinginan untuk membentuk organisasi pemuda Indonesia belum bisa terwujud karena masih kentalnya nuansa kedaerahan. 2 tahun kemudian, pada 27-28 Oktober 1928 diadakan Konggres Pemuda II di Jakarta yang berhasil mencetuskan Sumpah Pemuda. Sebagai kelanjutan kongres pemuda II, pada 24-28 Desember 1929 di Yogyakarta disetujui gagasan fusi organisasi pemuda, sehingga pada 31 Desember 1930 berdirilah Indonesia Muda di Solo.
Pasang surut berbagai organisasi ini tentunya memang sangat dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah kolonial Belanda yang merumah kacakan semua aktivis pergerakan nasional. Sehingga ketika terbentuk perlawanan, maka tokoh-tokoh gerakan tersebut segera diciduk dan dibuang ke digul, luar jawa atau luar negeri. Karena keadaan yang demikian, maka gerakan perlawanan terhadap Belanda terbagi dalam dua strategi; kooperatif (Soetomo dkk) dan non kooperatif (Soekarno dkk.)
8 Maret 1942, pasca perjanjian Kalijati secara resmi Hindia Belanda jatuh ke tangan Jepang. Sikap pemuda menghadapi kedatangan jepang terbagi dalam 3 golongan; pertama; golongan pergerakan yang selama ini sudah amat lelah melakukan perlawanan terhadap Belanda karena selalu gagal. Jepang bagi mereka adalah angin baru untuk mendapatkan perubahan. Kedua; golongan yang secara kritis dan cermat mengamati model dan sifat penjajahan Jepang di Korea, Cina daratan dan Formosa. Tetapi meskipun kritis, mereka juga menganggap kedatangan Jepang sebagai penyegaran situasi politik di Indonesia. Ketiga; golongan yang lebih sadar dan mampu melihat pertentangan raksasa-raksasa dunia itu dengan obyektif. Mereka berkeinginan untuk memanfaatkan kekacauan dunia sebagai peluang untuk mendapatkan kemerdekaan. Di sisi lain, golongan ini sekaligus sangat khawatir dengan kondisi Indonesia yang belum siap menghadapi perang dunia. (STA : Menang dan Kalah, 1992 :21). Dalam hal perlawanan terhadap Jepang yang secara tegas melarang dan membubarkan berbagai organisasi untuk diikutsertakan dalam perang Asia Timur Raya, gerakan nasional terbagi dalam 2 strategi; Underground (Tan Malaka dkk.), Kooperatif (Soekarno dkk.).

C. Sejarah Gerakan Mahasiswa 1945-1966

Dengan dikumandangkannya proklamasi 17 Agustus 1945, bukan berarti Indonesia telah merdeka. Perjuangan melawan rongrongan dari pihak luar (sekutu, NICA, Agresi militer dst.) ataupun dari dalam (berbagai pemberontakan di daerah) menjadi harga mati demi tetap menjaga keutuhan bangsa. Di masa demokrasi liberal (1945-1950), pergantian kabinet dan Perdana Menteri terus menerus terjadi. Sehingga situasi politik menjadi tidak stabil. Dekrit Presiden 5 April 1959 pun tidak benar-benar mampu menyelesaikan persoalan bangsa. Pergantian sistem negara menjadi demokrasi Terpimpin justru kian menggoyahkan posisi Soekarno dan orde lamanya. Lalu, apa yang dilakukan gerakan mahasiswa di tengah kemelut bangsa ini?
Kemerdekaan Indonesia tahun ’45 bisa dikatakan menandai pergantian generasi. Tokoh-tokoh organisasi pergerakan nasional sebagian besar telah duduk di lembaga pemerintahan, seperti Soekarno, Hatta, Amir Syarifudin, Syahrir dll. Ada pula tokoh-tokoh yang tetap berjuang tanpa melalui jalur pemerintahan, seperti Tan Malaka, namun jumlahnya sangat sedikit. Meskipun begitu, roda pergerakan organisasi mahasiswa tetap berjalan walaupun pada era ini organisasi mahasiswa menjadi underbow parta-partai politik
Pada 8 Maret 1947 terbentuklah wadah konfenderatif organisasi ekstra universitas bernama PPMI (Persatuan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia). Sayangnya dalam perkembangan selanjutnya PPMI ternyata terlalu didominasi oleh aktivis mahasiswa yang sekaligus menjadi aktivis partai politik. Bahkan PPMI menjadi ajang persaingan dan saling menjatuhkan antara sesama organisasi mahasiswa. Apalagi PPMI ternyata lebih memihak pada Soekarno dengan gagasan NASAKOM dan PKI nya. Melihat kondisi ini, akhirnya pada 25 Oktober 1965 di Jakarta terbentuk KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia). Meski pada akhirnya KAMI pun tidak bisa bertahan lama karena KAMI merupakan organisasi yang bersifat reaktif (reksi terhadap orde lama). Tahun 1969 KAMI bubar setelah PPMI juga membubarkan diri pada kongres IV pada tanggal 29 Desember 1965 di Jakarta.
Selain PPMI dan KAMI juga terbentuk organisasi lain, terutama organisasi mahasiswa Islam, seperti Serikat Mahasiswa Muslim Indonesia (SEMMI) berdiri pada tanggal 2 April 1956, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) berdiri pada tanggal 17 April 1960, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) berdiri pada tahun 1964, Kesatuan Mahasiswa Islam (KMI) berdiri 20 Januari 1962, Himpunan Mahasiswa Al-jami’atul Wasliyah (HIMMAH) berdiri 8 Mei 1961.

D. Sejarah Gerakan Mahasiswa 1966-1998
Tahun 1966, di saat legislatif tidak mampu lagi mengakomodir kepentingan rakyat, pun tersumbatnya saluran dioalog dengan pemerintah maka mahasiswa mengambil alih peran legislatif engan gerakan protes di jalan. Sejak saat itulah gerakam mahasiswa, pemuda dan pelajar dikenal dengan istilah baru “GERAKAN PARLEMEN JALANAN”. Gerakan parlemen jalanan sangat mungkin terjadi karena suasana politik saat itu memungkinkan mahasiswa, pemuda dan pelajar matang secara politik diakibatkan sistem politik yang telah dikembangkan oleh orde lama.
Memang gerakan mahasiswa “Angkatan ‘66” mampu menurunkan Soekarno. Sayangnya, gerakan revolusioner tersebut hanya diletakkan pada kerangka “kekuatan-kekuatan pendobrak” tanpa “pengawalan ketat” terhadap proses transisi pasca gerakan penurunan rezim yang dilakukan. Sehingga penuntasan terhadap tuntutan perubahan tidak dapat terwujud. Dalam sejarahnya, Angkatan ’66 yang semula menjadi ujung tombak perubahan, pada perkembangan selanjutnyanya ternyata justru terbuai oleh euphoria yang luar biasa atas kemenangannya. Mereka lupa memposisikan dirinya sebagai media kontrol atas perubahan dan bukan hanya sekedar melakukan penumbangan rezim.
Di sisi lain, secara obyektif gerakan mahasiswa mengalami kelelahan fisik dan mental yang luar biasa akibat terforsir di jalanan antara tahun 1965-1967. Hal ini dapat kita lihat pada mandegnya gerakan KAMI sebagai gerakan aksi, karena pada generasi KAMI yang lahir selanjutnya, terjadi keterputusan sejarah, wacana dan idealisme.
Imbasnya, pasca jatuhnya orde lama, Soeharto dengan orde barunya pada akhirnya kembali menjadi rezim otoriter yang mengkhianati perjuangan untuk menegakkan demokrasi di Indonesia. Sistem politik yang represif sengaja diciptakan demi menancapkan kekuatan hegemoniknya lewat Pembangunan (Developmentalisme). Dan, bulan madu antara gerakan mahasiswa dan soeharto pun berakhir.
Suara kritis mahasiswa diabaikan serta dibendung dengan respon represif. Pers sebagai kekuatan independen yang melakukan fungsi kontrol terhadap negara pun dibungkam. Puncaknya; terjadilah Malapetaka 15 Januari 1974 (MALARI); dengan pembredelan belasan media yang mengungkap secara kritis kebobrokan pemerintah orde baru. Para aktivis mahasiswapun ditangkap tanpa melalui mekanisme dan prosedur hukum yang jelas.
Tahun 1978, lahir SK Pangkopkamtib, nomor : SKP-02/KOKAM/I/1978, tentang pembekuan Dewan Mahasiswa (DEMA). DEMA di seluruh kampus pun dibubarkan. Selanjutnya diperkuat dengan SK Mendikbud No.0156/U/1978 tentang Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) dan Badan Koordinasi Kemahasiswaan (BKK) dengan tujuan memotong akar gerakan mahasiswa melalui struktur/pimpinan Perguruan Tinggi.
Proses penerapan NKK-BKK tersebut berimplikasi buruk dengan semakin melemahnya gerakan mahasiswa –yang juga ditekan oleh militer sebagai instrumen dari rezim- sehingga ruang politik gerakan mahasiswa terbunuh. Hal ini ditunjukkan oleh stagnasi yang luar biasa dari berbagai organ gerakan mahasiswa baik intra maupun ekstra. Pun, pembubaran DEMA membawa akibat yang negatif pada citra diri mahasiswa. Umumnya mahasiswa menjadi takut berekspresi, apatis terhadap persoalan bangsa serta cenderung menjauhi bentuk-bentuk perkumpulan mahasiswa.
Namun di tengah kelesuan-gerakan tersebut, justru lahir mahasiswa-mahasiswa yang mempunyai komitmen perjuangan dan kesadaran kritis yang tinggi terhadap gerakan. Mereka adalah mahasiswa yang bergerak di level ekstra kampus seperti di sektor informal, LSM-LSM, di Jalan-jalan kota, maupun gerakan-gerakan pembasisan riil di masyarakat desa.
Sadar akan eksistensi mahasiswa di ruang ekstra kampus yang justru membahayakan bagi negara, terlebih setelah ia melihat mahasiswa sudah menemukan bentuk baru tugas kesejarahan mereka dengan melakukan fungsi kontrol atas masala-masalah yang berkembang di luar kampus maka Mendikbud Fuad Hasan mengeluarkan SK Mendikbud No. 457/U/1990 tentang pembentukan Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi. Pembentukan kembali organisasi mahasiswa ini tentunya bukan bebas dari kepentingan. Melainkan, kebijakan ini adalah upaya untuk meredam aktivitas jalanan (aksi/metode jalanan) yang tumbuh subur pasca 1988.
Penerimaan SMPT dan fungsionalisasi organisasi kemahasiswaan memang sangat beragam, Tapi yang lebih penting dari itu, semua instrumen yang dimiliki mahasiswa, entah di level intra atau ekstra berhasil diposisikan sebagai penggerak arus perubahan bangsa. Bisa dikatakan, pada akhir 1980-an sampai akhir 1990-an gerakan mahasiswa semakin menggeliat. Bahkan Dekade 1990-an ditandai dengan semakin merebaknya gerakan oposisi di Indonesia sebagai bentuk protes terhadap negara. Hal ini ditunjukkan dengan pola gerakan yang lebih menyuarakan masalah masyarakat grass root (akar rumput), HAM dan demokrasi

E. Sejarah Gerakan Mahasiswa 1998 – Sekarang
Pasca Reformasi 1998 gerakan mahasiswa terbagi dalam tiga strategi gerakan. Pertama;gerakan mahasiswa yang terus-menerus memilih turun ke jalan. Kedua; gerakan mahasiswayang kemudian melebur dengan kelompok-kelompok marginal, yakni dengan melakukan pemberdayaan serta pendampingan riil (advokasi) terhadap masyarakat. Ketiga; gerakan mahasiswa yang kembali lagi ke kampus sebagai basis gerakan.
Ironisnya, dalam menyikapi kondisi politik nasional gerakan mahasiswa terjangkit virus kepentingan. Polarisasi gerakan pun tak dapat terelakkan. Padahal, menjelang reformasi 1998, seluruh elemen gerakan mahasiswa dapat berjalan beriringan secara spektakuler, fenomenal dan revolusioner.
Bila kita mengamati gerakan mahasiswa 2001, setidaknya akan kita jumpai tiga warna gerakan berdasarkan pemetaan isu yang diusung dan diperjuangkan yakni Aliansi BEM-I, BEM-SI dan kelompok yang memilih berdiri di bawah bendera organisasinya masing-masing. (Tabloid Detak Edisi Maret 2001). Sampai tahun 2007, pemetaan ini tidak mengalami perubahan yang signifikan.
Gerakan mahasiswa yang terkumpul dalam Aliansi BEM-I (Badan Eksekutif Mahasiswa Indonesia) terdiri dari PMII (dimotori oleh IAIN Jogja), Famred, Jarkot, Forkot, BEM PT Jawa Timur serta sebagian gerakan kiri lainnya. Pada waktu itu isu yang mereka perjuangkan adalah pembubaran Golkar, pengadilan Soeharto dan desakan untuk percepatan Pemilu. Dalam hal penurunan Gus Dur yang di anggap terlibat Buloggate I, mereka cenderung tidak mau larut di dalamnya.
Dalam perkembangannya, di saat BEM-I mulai mengalami kevacuman, gerakan mahasiswa yang tergabung dalam kelompok ini kembali melakukan konsolidasi gerakan mahasiswa di level nasional dalam bentuk BEM Nusantara. Terhitung sejak tahun 2004-2007 ini, BEM Nusantara sudah 6 kali mengadakan Kongres Mahasiswa Nusantara yakni di kota Jogjakarta, Bandung, Surabaya, Riau, Bali dan Jakarta.
Gerakan Mahasiswa yang tergabung dalam BEM-SI (Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia) terdiri dari UI, ITB,Trisakti,UNJ, IPB, UGM, UNY, dan beberapa perguruan tinggi lainnya. Isu yang mereka usung dan perjuangkan adalah menuntut Gus Dur tururn, pembersihan KKN, pengadilan Soeharto dan pelaksanaan enam agenda reformasi. Di antara beberapa elemen gerakan mahasiswa yang ada, merekalah yang paling gegap gempita dan bersemangat untuk menurunkan Gus Dur.
Kelompok yang tidak tergabung dengan dua aliansi di atas dan berdiri di bawah bendera organisasi mereka masing-masing. Mereka adalah KAMMI, HMI MPO, HMI DIPO, IMM, Alfonso (Aliansi Lembaga Formal Seluruh Indonesia), Hammas dan lain-lain. Kelompok ini menganggap bahwa Gus Dur adalah entri point dari seluruh desakan utnuk menegakkan clean and good governance. Meski di akhir gerakannya kemudian mereka lebih dekat dengan BEM-SI dalam mendukung penurunan Gus Dur dari kursi kepresidenan.
Polarisasi gerakan mahasiswa pasca reformasi 1998, yang tercermin dalam pemetaan di atas, merupakan kemunduran besar bagi perjuangan mahasiswa. Karena persatuan dan gerakan yang coba digalang hanya berlandaskan pada kepentingan pihak tertentu dan cenderung meninggalkan idealisme sebagai agen perubahan sosial. Sehingga PR besar bagi gerakan mahasiswa Indonesia saat ini adalah bagaimana mengupayakan konsolidasi nasional seperti yang pernah tercapai pada Kongres Pemuda 1928. Sebuah konsolidasi yang benar-benar berlandaskan pada semangat untuk membangun kejayaan bangsa dan negara Indonesia tercinta. Sebelum semua itu tercapai, selamanya, gerakan mahasiswa hanya menjadi gerakan yang tidak punya Bargaining Position apapun dalam setiap perubahan bangsa ini.

MATRIK ALUR HISTORIS GERAKAN MAHASISWA INDONESIA

Periodisasi Aktor Gerakan Karakter Gerakan Gagasan Konteks Sos-Pol
Masa Kolonial
(1907-1925)
masa afiliasi dan kedaerahan Syarikat priyayai dan SDI-1907 Persatuan bumi putra Ide kemajuan Politik etis
Boedi utomo-1908 Pendidikan anak bangsa, kesadran beroraganisasi Ide kemajuan jawanisme
Indische partj-1911 Persatuan melawan kolonialisme,kemansirian Nasionalisme Hindia Politik diskriminasi
Trikoro Darmo-1915,
Jong java-1918 kedaerahan Ide keamjuan nation java
Jong sumatranen bond-1919 kedaerahan Ide keamjuan nation sumatera
Jong Ambon, Jong Minahasa, Jong celebes Idem
Jong Islamiten bond-1924 Keislamaan Ide Kemajuan
Indiche Vereneging 1916-Perhimpunan Indonesia (1925) Demi kemerdekaan Pencarian Legitimasi Intersional Nsionalisme Ernest renan
Sosialisme Pasca PD I, Liberalisme Eropa
(1925-1942)
masa persatuan dan Rintisn kemerdekaan Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (PPPI) 1925 Demi kemerdekaan Persatuan Pemuda Indonesia Nasionalisme Indonesia Pergolakan Nasional Melawan Belanda
Konggres Pemuda I (1926) Pembangunan Solidaritas Fusi Kekuatan Pemuda
Konggres Pemuda II (192 8) Persatuan Pemuda Sumpah Pemuda
Bergabung dengn Partai-partai non Koopertif (1933) Demi Kemerdekaan Nasionalisme
Pendudukan Jepang (1942-1945) (Gerakan Pemuda Stagnan) Kecuali pada organisasi militer, PETA, dll Kemerdekaan Nasionalisme PD II
Revolusi Kemerde
kaan (1945-1950) Perserikatan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Pro Republik Politik NKRI Usaha Belanda mengusai kembali Indonesia
ORDE LAMA
(1945-1950) Dewan Mahasiswa (DEMA) 1950 Intra Kulikuler (non Politis) Pertumbuhan Perguruan Tinggi (PT)
Underbow parpol (GMNI,CGMI,
HMI) Propaganda parpol politis Kampus sebagai Quasi Battle ground Demokrsi Parlementer
Kesatuan Aksi Mahasiswa indonesia (KAMI) Penggantian Rezim Penumpsan PKI Demokrasi anti Komunisme G-30/S/PKI runtuhnya Orde Lama
ORDE BARU (1966-199 8) Petisi 24 Oktober 1973 Pemertaan dan reorientasi Pembangunan Dependensia Kritik developmentalisme Pemilu 1971 yang curang pemerintahan korup
DEMA se-Jakarta
MALARI (1974) Anti Dominsi asing (produk Jepang) Nasionslisme Masuknya Investasi Asing
Persatun Mahasiswa Se-Jakarta 1977 – Pembaruan Struktur politik
– Kembli ke UUD 1945
– Menyuarakan kritisisme Kerakyatan (Illich Scumacher) regulize Pemilu 1977 ORBA Otoriter
REFORMASI 1998-sekarang CIPAYUNG – Pembaharuan struktur pemerintahan Rezim Otoriter Soeharto

ULASAN AKHIR
POTRET SEJARAH BANGSA
Periodesasi Tgl/Thn Peristiwa/Nama Keterangan
Masa Kolonialisme Belanda
(1596-1942)

– Akar kolonialisme di dunia berawal dari hasrat pemenuhan kebutuhan rempah-rempah yang semakin sulit akibat penutupan jalur sutra oleh pasukan Islam pada saat perang Salib. (Kapitalisme Awal).
– Perjalanan samudra pertama di awali oleh Portugis dan Spanyol
1478 Majapahit tumbang Kerajaan Maritim yang berhasil menyatukan Nusantara
1500 Kerajaan Islam Demak Berdiri Raja pertama Raden Fatah
1511 Portugis menguasai Malaka Hubungan Demak dengan Malaka terputus
1513 Penyerangan Demak ke Malaka Dipimpin Pati Unus, tapi gagal.
1521 Trenggono naik sebagai Raja Demak “Titik balik” kemunduran Nusantara. Negara Maritim berubah jadi Agraris yang hanya berorientasi ke dalam.
1527 Portugis datang di Sunda Kelapa Awalnya atas nama motif ekonomi “perdagangan”
1575 Sultan Baabulloh (Ternate) berhasil mengusir Portugis dari Maluku –
1586 Mataram berdiri di Kotagede Yk Sutawijaya (Panembahan Senopati)
1596 Belanda datang di Indonesia Dipimpin Cornelis de Houtman; dengan Jargon 3G (Gold, Glory dan Gospel)
1602 VOC (Vereenidge Oost Indische Compagnie) berdiri. Dipimpin J.P. Coen (pada masa Mataram sebelum sultan Agung); Praktek monopoli rempah-rempah.
1619 Jayakarta berganti nama Batavia Batavia menjadi markas besar VOC
1666 Perjanjian Bongaya Raja Hasanuddin dari Makasar menyerah kepada VOC
1676 Perjanjian Jepara
Amangkurat II harus menyerahkan pesisir utara tanah jawa jika VOC berhasil menaklukkan Trunojoyo
1730 Pemberontakan Sambarnyawa (Raden Mas Sa’id) dg motif kedaulatan mataram diinjak-2 dan kesepakan dg Belanda yg membelenggu (ini mempunyai pengaruh besar bagi jawa).
1755 Perjanjian Gianti Mataram dibagi 2; Surakarta dan Yogyakarta
1757 Perjanjian Salatiga Surakarta dibagi 2; Mangkunegaran dan Kasunanan
1825-1830 Perang Jawa Dipimpin Pangeran Diponegoro
1830-1870 Culture Stelsel oleh Van de Bosch Kebijakan untuk menutupi kekosongan kas Belanda pasca perang Jawa dan perang lain di Nusantara. VOC Pailit.
1901 Politik Etis Van Deventer Edukasi, migrasi, irigasi Kemenangan kaum Liberal atas Ratu Wilhelmina; tetap menjadi kamuflase politik/cara baru pengelolaan tanah jajahan.
Masa Afiliasi, kedaerahan dan kebangkitan 1907-1925
Faktor internal :
– Rasa senasib sbg bangsa terjajah.
– Transportasi dan komunikasi yang semakin maju
– Konsolidasi bangsa
– Inspirasi Kejayaan Sriwijaya dan Majapahit.
– Massifnya konsolidasi wacana tentang nasionalisme dan wacana kebangsaan melalui pers.

Faktor Eksternal :
– Revolusi kaum muda Turki/ Gerakan Turki Muda di bawah Kemal Attaturk,1908
– Berakhirnya PD I; 1918, menandai dimulainya revolusi Asia
– Perlawanan kaum nasionalis India 1919, terhadap Inggris dengan tokohnya Mahatma Gandhi. (Ahisme, hartal, satyagraha dan swadeshi.)
– Revolusi Tionghoa/ nasionalis China di bawah pimpinan dr. Sun Yat Sen menumbangkan dinasti Manchu. 1911
– Politik Diskriminasi
– Kemenangan Jepang atas Rusia pada PD I
– Revolusi Bolsevik di Rusia 1917; menumbangkan feodalisme Tsar.
– Gerakan nasionalis Filipina di bawah Jose Rizal.
– Pasca PD I, kekuasaan modal bergeser dari Eropa ke Amerika Serikat sehingga kekuatan Eropa melemah.
– Gerakan pembaruan Islam yang dibawa Jamaluddin Al Afghani, Muh.Abduh,Rasid Ridha. 1907 Syarikat Pyiyayi oleh RM. Tirto Adhi Soerjo Organisasi Pribumi I di Indonesia
20-5-1908 Boedi Oetomo oleh Dr. Soetomo dan pelajar STOVIA (Sekolah dokter pribumi), masih bersifat Jawasentris. Pada kongres I Okt. 1908, terjadi perdebatan tentang aras gerak BO & dimenangkan oleh golongan tua yang tidak menghendaki BO terjun dlm dunia politik. Sejak itu BO menjadi lamban & ditinggalkan oleh golongan muda yang radikal, seperti dr. Soetomo & Ciptomangunkusumo
22-12-1908 Indische Vereeniging
1922; berganti nama Indonesische Vereeniging
1925; Berganti nama menjadi Perhimpunan Indonesia Organisasi mahasiswa Indonesia di Belanda dipimpin oleh Drs. Moh. Hatta.
1923; Iwa Kusumasumantri
1924; Nazir datuk pamuncak
1925; Sukiman Wiryosanjoyo, mencetuskan manifesto politik.
1909 SDI (Sarekat Dagang Islam)
1909; dirintis oleh RM. Tirto Adhi Soerjo
1911; Diresmikan oleh H. Samanhudi di Solo Organisasi pedagang batik untuk melawan monopoli penjualan bahan baku oleh pedagang Cina. Awalnya bersifat kooperasi tapi selanjutnya berubah menjadi partai massa yang non kooperatif shg Belanda jadi waspada. Tahun 1930; SI pecah jadi 2; SI merah pimpinan Semaun& Darsono, SI putih pimpinan H. Agus Salim dan HOS Cokroaminoto dan akhirnya berubah menjadi Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII)
Nov. 1912 SDI berubah menjadi Sarekat Islam; diketuai H.O.S Cokroaminoto, H. Samanhudi sebagai ketua kehormatan
18-11-1912 Muhammadiyah di Yogya oleh KHA. Dahlan Bergerak dalam bidang sosial, pendidikan, kesehatan & agama.
Des. 1912 Indische Partij (IP) oleh Tiga serangkai; Douwes Dekker (Danudirja setiabudi), dr. Cipto Mangunkusumo, Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) Organisasi politik I. Bersikap sangat radikal. Semboyannya Indie los Van Holland (Hindia bebas dari Holand), Indie Voor Inders (Hindia untuk orang Hindia). Pada maret 1923 IP dibubarkan oleh pemerintah Belanda.
Agust 1913 Komite Bumi Putra oleh Tiga Serangkai Menulis artikel als ik eens Nederlander was (seandainya aku orang belanda). Akibat tulisan ini ketiganya dibuang ke Belanda
1914 Berdiri Indische Sosial Democratische Vereeniging (ISDV) oleh Sneevliet, Bransteder dan Semaun 23-05-1920; berubah nama menjadi Perserikatan Komunis Hindia. 1924; berubah menjadi PKI. 12-11-1926; memberontak kepada Belanda
7-3-1915 1918, Trikoro Dharmo di Jakarta; menjadi Jong Java Setelah sumpah pemuda Jong Java melebur dalam Indonesia Muda
3-7-1922 Taman Siswa di Yogya Didirikan oleh K H Dewantara
1923 Persatuan Islam (Persis) di Bandung
1924 Indonesische Studie Club oleh dr. Soetomo Organisasi ini terbentuk setelah dr Soetomo keluar dari BO karena dikuasai oleh golongan tua yg tdk sejalan dg keinginan kaum muda.
Masa Persatuan dan Rintisan Kemerdekaan
(1925-1926)

– 1930-an; resesi ekonomi di negara kapitalis sehingga terjadi konflik untuk memperebutkan negara jajahan sehingga terbentuk kubu Axis (Jerman dan Jepang) dan Allies (Sekutu)
– PD II; 1939; akibat nyata dari Malaise (resesi ekonomi) 1925 Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (PPPI) Mengentalnya nasionalisme dan peratuan pemuda Indonesia
22-2-1925 Perhimpunan Politik Katolik Jawi di Yogya Tokoh utamanya adalah I.J. Kasimo
31-1-1926 NU berdiri di Surabaya Dipelopori oleh KH Hasyim Asy’ary & KH Wahab Hasbulloh
1926 Pemberontakan PKI (Partai Komunis Hindia Belanda) Diilhami oleh Revolusi Bolshevik di Rusia, sejak itu tokoh Indonesia byk melakukan kontak dgn Uni Soviet
1926 Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) Tokoh; M.Yamin, Amir Sarifudin, AK.Gani,Abdulloh Sigit, Suwiryo dll
30 April-2 Mei 1926 Kongges Pemuda I di Jakarta Fusi kekuatan Pemuda, semangat kedaerahan masih sangat kental
04-7-1927 Berdiri Partai Nasional Indonesia (PNI) oleh ir. Soekarno. Bersikap sangat radikal dan melakukan agitasi politik. 1929; tokoh2nya ditangkap& dipenjara. April 1931;PNI membubarkan diri (Mr.Sartono). Anggotanya pecah; yang setuju membentuk Partindo.Yang tidak setuju membentuk PNI Baru yang lebih radikal, oleh Hatta & Syahrir
27s/d28 -10- 1928 Konggres Pemuda II di Jakarta Sumpah Pemuda “28-10-1928”, M. Yamin “bilang” sbg masa Penegak
31-12-1930 Indonesia Muda di Solo Meneruskan Kongres Pemuda
Des. 1935 Berdiri Partai Indonesia Raya (Parindra); Fusi dari BO & Partai Bangsa Indonesia (PBI) Ketuanya Dr. Sutomo. Banyak bergerak dalam bidang ekonomi dan sosial budaya
1939 GAPI (Gabungan Politik Indonesia), federasi partai-partai, inisiatif Parindra Gabungan antara PSII, Parindra, Partai Katolik, Persatuan Minahasa, Pasundan,Gerakan Rakyat Indonesia
Masa Pendudukan Jepang (1942-1945)

Gerakan 3A (29-08-1942);
Nipon Cahaya Asia
Nipon Pelindung Asia
Nipon Pemimpin Asia
Jepang membentuk :
a. Keibodan; organisasi militer pembantu polisi.
b. Seinendan; barisan pemuda
c. Heiho; tentara Bumiputera dalam Balatentara Dai Nippon.
d. Gunseikanbu; lembaga bahasa yang menerjemahkan bahasa Belanda kebahasa Indonesia

8-3-1942 Perjanjian Kalijati di Kalijati Subang Jawa Barat; Belanda menyerah tanpa syarat kpd Jepang Menandai kekuasaan Jepang di Asia Timur Raya(Cina,IndoCina,Thailand, Burma, Indonesia, Filipina & pulau2 di Pasifik) di bawah Tenno Heika
20-3-1942 Dikelurkan peraturan yang melarang semua rapat dan kegiatan politik Tapi pada 15-7-1942 dibolehkan berdiri perkumpulan yang bersifat hiburan.
– Jepang mengambil simpati pemimpin Indonesia dengan membebaskan mereka dari tahanan Belanda. Ironisnya, Jepang kemudian menerapkan Romusa untuk membangun sarana dan prasarana perang.
– Untuk mengurangi korban, Sri Sultan Hamengkubuwono melarang rakyatnya untuk ikut Romusa dan mengalihkan perhatian Jepang dengan membangun Selokan Mataram yang menggabungkan S. Progo dan S. Opak sepanjang 35 M, untuk mengairi sawah di Sleman.
6-4-1943 Dibentuk Putera (Pusat Tenaga Rakyat) oleh 4 serangkai; Soekarno,Hatta, KH. Mas mansur, Ki H Dewantara. Dalam perkembangannya putera lebih berpihak pada Indonesia sehingga dibentukJawa Hokokai (Himpunan Kebaktian Jawa)
Oktober 1943 Berdiri PETA (Pembela Tanah Air) PETA memberontak pada 14-2-1945 di Blitar di bawah Supriyadi
Maret 1945 BPUPKI di bentuk Diketuai dr. Radjiman, Suroso &1 org Jepang, beranggotakan 59 org
8 & 9-08-1945 AS menjatuhkan bom di Hirosima dan Nagasaki Peristiwa ini menjadi simbol runtuhnya kekuatan Jepang.
8s/d14 -8-1945 Soekarno-Hatta-Radjiman diundang ke Dalat Indo-Cina oleh Jend. Terauci Terauci menjanjikan Indonesia diberi kemerdekaan pada 24-08-1945
13s/d14 -8-1945 Proklamasi Postdam AS menuntut Jepang untuk menyerah tanpa syarat
16-8-1945 Peristiwa Rengas
Dengklok Soekarno-Hatta diculik oleh kaum muda, proklamirkan kemerdekaan
MASA ORDE LAMA
1945-1966

Juli 1944 terjadi pertemuan Bretton Woods untuk merumuskan strategi baru mengahadapi negara-negara yang merdeka. Hasilnya :
– 1946; dibentuk World Bank dan IBRD; memberi pinjaman untuk pembangunan bangsa yang baru merdeka dengan persyaratan model pembangunan tertentu
– 1947; dibentuk IMF; memberi pinjaman untuk negara yang kesulitan dalam neraca pembayaran luar negeri dan memasukkan disiplin financial tertentu.
– 1947; GATT beroperasi; memajukan dan mengatur perdagangan dunia agar sesuai dengan kepentingan kapitalis. 17-8-1945 Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Jum’at Legi, di rumah Laksamana Maeda, Jl. Pegangsaan Timur No.56 Jakarta
1945-1959 Demokrasi Liberal Pada masa ini terjadi berulang kali pergantian perdana menteri&kabinet sehingga terjadi labilitas politik
18-8-1945 KNIP dibentuk menggantikan PPKI
23-3-1945 Bandung lautan Api TKR (Tentara Keamanan Rakyat) melawan sekutu yang diboncengi oleh Belanda (NICA). Sekutu membakar kota Bandung
15-8-1945 Akhir PD 2 Jepang menyerah pada sekutu
17-8-1945 Proklamasi Kemerdekaan
……….1945 Peristiwa Bojong Kokosan di Sukabumi TRI (Tentara Republik Indonesia) melawan Sekutu
19-9-1945 Peristiwa Hotel Yamato di Surabaya Pemuda Indonesia menurunkan bendera Belanda diganti merah putih
14 s/d 20-10-1945 Pertempuran Lima Hari di Semarang TKR melawan Jepang
21-10-1945 NU mengeluarkan Resolusi Jihad Dikeluarkan krn kedatangan tentara AS,Inggris&NICA dipimpin oleh Jend.Mallaby tdk direspon tentara.
10-10-1945 Pertempuran 10 November di Surabaya TKR di bawah Bung tomo melawan Sekutu dan NICA. Jenderal Mallaby (Sekutu) tewas.
10-12-1945 Pertempuran Medan Area di Medan TKR di bawah Achmad Tahir melawan sekutu
12-12-1945 Pertempuran Ambarawa di Ambarawa TKR di bawah kol. Sudirman melawan Sekutu
15-12-1945 Inggris mundur dari Semarang Hari Infanteri
– 1945 berdiri PBB dan juga disepakati Declaration of Human Right.

18-11-1946 Puputan Margarana di Denpasar TRI Di Bawah I Gusti Ngurah Rai melawan Belanda
25-3-1947 Perjanjian Linggarjati
a. Belanda mengakui kedaulatan negara RI atas Sumatera, Jawa dan Madura
b. RI-Belanda akan bekerja sama membentuk Negara Indonesia Serikat
21-7-1947 Agresi Militer Belanda I
17-1-1948 Perjanjian Renfille RI mengakui daerah2 yang diduduki Belanda pada Agresi Militer I menjadi daerah Belanda
18-9-1948 Pemberontakan PKI di Madiun PKI di bawah Muso memberontak & ingin mendirikan negara komunis
19-12-1948 Agresi Militer Belanda II
Nov 1949 UUD RIS diberlakukan 1950, berganti menjadi bentuk negara berganti menjadi RIS
1-3-1949 Serangan umum di Yogya TNI dipimpin Letkol. Soeharto melawan Belanda.
7-5-1949 Perjanjian Roem-Royen a. Pemerintah Indonesia akan dikembalikan ke Yogyakarta
b. Indonesia & Belanda akan berunding lagi di KMB
14-8-1949 Pemberontakan DI/TII di Jateng (1949-1962) DI/TII di bawah Kartosuwiryo akan membentuk negara Islam

Kondisi Orla pra 1965 :
– Keadaan ekonomi negara kian terpuruk akibat Politik berdikari yang digagas Soekarno sehingga bantuan luar negeri dihentikan.
– Laju inflasi membumbung tinggi sampai 600%
– berkali-kali dilakukan pemangkasan nilai rupiah.
– Tersedotnya APBN untuk Politik konfrontasi Orla dengan Malaysia. ……….1949 Pemberontakan Ibnu Hajar di Kal-Sel –
23-8-1949 sampai 02-10-1949 Konferensi Meja Bundar (KMB) a. Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia Serikat
b. Kedudukan Irian Jaya (Irian Barat) akan diselesaikan setahun setelah pengakuan kedaulatan.
23-1-1950 Peristiwa APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) di Bandung APRA di bawah Westerling memberontak kepada RIS. Dihancurkan 24-01-1950
5-4-1950 Peristiwa Andi Aziz di Ujungpandang Andi Aziz (bekas KNIL) memberontak RIS. Menyerah 26-04-1950
27-9-1950 Indonesia masuk PBB
1-10 1950 Peristiwa RMS di Maluku Soumokil memberontak RIS.
1955 Pemilu Pertama di Indonesia (Multi Partai) Suara terbesar diperoleh PNI, NU, Masyumi dan PKI.
18-21 April 1955 Konferensi Asia Afrika di bandung –
17-8-1957 Pemberontakan DI/TII di Sulsel Pimpinan Kahar Muzakar
– Pemberontakan DI/TII di Brebes Pimpinan Amir Fatah
– Pemberontakan DI/TII di Aceh Pimpinan Daud Beureuh
15-2-1958 Pemberontakan PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) di Sumatera –
1958-1961 Pemberontakan Permesta (Perjuangan Rakyat Semesta) di Sulawesi Selatan –
5-7-1959 Dekrit Presiden Kembali ke UUD 1945
1959-1966 Demokrasi terpimpin
19-12-1961 Tri Komando Rakyat Gerakan untuk merebut kembali Irian Barat
1-5-1963 Irian Barat kembali ke Indonesia
30-9-1965 G 30S PKI
25-10-1965 Terbentuknya KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) Operasionalisasi program KAMI :
1. Mengamankan Pancasila
2. Memperkuat bantuan kepada ABRI dalam menumpas G.30.S/PKI sampai ke akar-akarnya.
28-1-1966 Lahir Tritura pada saat demonstrasi front pemuda dan disambut dengan demonstrasi KAMI tanggal 10-02-1966 di Jakarta Isu Tri tura (Tiga Tuntutan Hati Nurani Rakyat) :
Bubarkan PKI beserta antek-anteknya
Bubarkan kabinet 100 menteri
Turunkan harga
ORDE BARU
1966-1998

– 1989; Uni Soviet runtuh mengakhiri perang dingin.

11-3-1966 Supersemar; menguatnya AD di dalam kekuasaan Sejak muncul Supersemar terjadi dualisme kepemimpinan antara Soekarno-Soeharto
12-3-1967 Soeharto dilantik menjadi presiden Pidato Nawaksara Soekarno ditolak MPR dan Soekarno diturunkan diganti Soeharto
1968 Dikeluarkan UU no.02 1968 tentang penanaman modal asing di Indonesia. Mengawali kekuasaan ideologi developmentalisme di Indonesia.
1-4-1969 PELITA tahap I 1974, 1979, 1984, 1989, 1994
1971 Pemilu Diadakan fusi Partai
15-1-1974 Peristiwa Malari “Malapetaka Lima Belas Januari – Pembredelan puluhan pers, penangkapan para aktivis.
– Dilatarbelakangi oleh kepentingan AS untuk membendung masuknya modal Jepang yang kian kuat di Indonesia.
6-1-1975 Operasi Seroja pasca kepergian Portugal dari Timor Timur. Didalangi oleh AS, untuk membendung masuknya komunisme di Timor Timur
1998 Penandatanganan Letter of Intent oleh Soeharto dengan Director IMF, Michael Camdesus Dimulainya pendiktean kebijakan ekonomi Indonesia oleh aktor-aktor internasioanal.
13s/d15 Mei 1998 Kerusuhan Anti Cina
18-5-1998 Soeharto Jatuh Digantikan oleh wakilnya BJ Habibie
Reformasi 1998 1999 Pemilu Multi Partai Pertama setelah orde Baru Gus Dur naik sebagai presiden RI ke IV
2001 Gusdur mundur digantikan Megawati Soekarno Putri (presiden V)
2004 Pemilu SBY menjadi presiden RI VI

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s